Kamis, 21 Agustus 2014   |   Jum'ah, 24 Syawal 1435 H
Wahai ananda ayah ingatkan Sifat malu jangan tinggalkan Malu bekerja yang menyesatkan Malu mengikut jalannya setan

Sastra Melayu

Dul Muluk

a:3:{s:3:

Seni pertunjukkan ‘Dul Muluk‘ ialah sebuah bentuk seni pertunjukkan yang lahir dan hidup di daerah Sumatera Selatan. Akan tetapi karena batang tubuh seni pertunjukan ini yaitu ceritanya adalah karya seorang pengarang Riau, maka ‘Dul Muluk‘ dijadikan salah satu di antara jenis entri yang dibicarakan di sini. Dikatakan lagi bahwa seni pertunjukan ‘Dul Muluk‘ ialah suatu seni pertunjukan yang dilahirkan dan hidup di Sumatera Selatan dengan memakai isi cerita Syair Abdul Muluk sebagai bahan, dimainkan dengan cara tentu.

Cerita berkisah tentang seorang raja yang bernama Abdul Muluk. Akan tetapi dengan imbas dan pengaruh cerita Panji yang cukup kentara sebenarnya Siti Rafi‘ah, isteri kedua Abdul Muluk. Akan tetapi  imbas dan pengaruh cerita Panji yang cukup kentara sebenarnya Siti Rafi‘ah, isteri kedua Abdul Muluk, yang lebih banyak memegang peranan. Seandainya syair ini dikarang benar-benar oleh seorang penulisan perempuan ( di kerajaan Riau-Lingga ada Raja Kalsum, Encik Kamariah, Aisyah Sulaiman atau Salmah binti Ambar) bukan tidak mungkin judulnya akan diubah menjadi Syair Siti Rafi‘ah. Untuk memberikan gambaran selintas tentang Syair Abdul Muluk memadailah kiranya berdasarkan ringkasan kisah yang telah dibuat oleh J.J. Hollande (1893) sebagaimana disalin dan disesuaikan berikut ini:

Dari keseluruhan cerita fragmen yang diberi nama ‘Siti Dua‘ yang mengisahkan kesetiaan para isteri paling disukai masyarakat.

Sekitar tahun 1919 di tebing Abang, sebuah desa yang terletak kira-kira 80 km dari palembang, dalam kecamatan Banyuasin III, kabupaten Musi Liar, seorang guru mulai memperkenalkan seni pertunjukan ‘Dul Muluk‘. Guru itu bernama Hasan, berasal dari Talang Pengeran, kecamatan Pamulutan, kabupaten Ogan Komering Ilir.

Orang yang berasal dari Pemulutan memang memegang peranan penting dalam kisah terciptanya seni pertunjukan ‘Dul Muluk‘. Beberapa peralatan yang dipakai dalam seni pertunjukan itu juga merupakan hasil rekaan orang-orang yang berasal dari Pemulutan. Misalnya, kuda-kudaan yang terpakai dalam pertunjukan ‘Dul Muluk‘ dan jidur, yaitu salah satu instrumen musik merupakan sumbangan dari daerah Pemulutan juga.

Dalam tata pementasan yang lebih ketat, para pelakon ‘Dul Muluk‘ sebelum permainan dimulai berkumpul di suatu tempat khusus yang disebut kebung. Di dalam kebung inilah mereka berpakaian dan bersolek sesuai dengan watak tokoh-tokoh yang akan dibawakan dalam pertunjukan itu. Ketika permainan dimulai, para pelaon itu keluar dari kebung ke gelanggang main.

Setiap pemegan  peranan biasanya menyolek dan menghias diri sendiri, atau saling membantu untuk menyolek/menghias temannya. Bagi para pemegang peranan lelaki disediakan bahan-bahan solek seperti bedak dan arang. Pada masa awal perkembangan seni pertunjukan ini untuk penerangan dipakai obor, dan sejalan dengan perjalanan masa lalu dipakai pun lampu gas (stronking) tentu saja terus mengikuti gerak masa dan penggunaan alat-alat hasil teknologi masa kini.

Contoh dialog apabila seorang raja bertitah kepada Perdana Menterinya yang diantarkan dengan berlagu diturunkan di bawah ini:

Wahai perdana menteri yang bijak bestari

Dengan sebenar saya berperi
Apakah khabar bicara negeri
Ramai tiada engkau khabari
Engkau bilangkan nyata dan pasti
Supaya saya dapat ketahui

Lalu dijawab oleh perdana menteri:

Daulat tuanku usul berstari
Dengan sebesar patik berperi
Tuanku bertanya bicara negeri
Negeri kita ramai tiada terperi
Wayang dan landak topeng raenari
Di bawah alam payung negeri
Begitu saja pafik berperi
Kepada tuanku empunya din

Dengan demikian pada setiap pamain seni pertunjukan ‘Dul Muluk‘ dituntut kemampuan untuk dapat bernyanyi sebagaimana dengan kadar dan kemampuan yang lebih besar dituntut pada pemain Wayang Bangsawan.

Sebelum permainan dimulai, semua anggota ‘Dul Muluk‘ lebih dulu berkumpul di dalam kebung untuk menyelenggarakan doa selamat Upacara ini dilakukan dengan terlebih dulu menyiapkan seperangkatan hidangan yang terdiri dari nasi gemuk yaitu semacam nasi  lemak atau nasi yang ditanah bukan memakai air tapi santan, sebutir telur yang dinamakan punjung, dan seekor ayam panggang. Dupa atau kemenyan dibakar dipedupaan (tempat bara). Dan seorang membaca doa selamat, dimainkan oleh anggota lainnya. Setelah mendoa selesai nasi dan lauk dibagi rata sedikit seorang dan dimakan sebagai penyempurna syarat upacara doa selamat.

Setelah itu seorang anggota yang menjadi pemimpin perkumpulan itu (biasanya seorang tua atau seorang yang dituakan) menyanyikan Lagu Kisoh dari dalam kebung. Itu berarti permainan ‘Dul Muluk‘ segera dimulai. Seorang demi seorang para pelakon, didahului isi penyanyi tadi keluar dari dalam kebung untuk melaksanakan upacara Beremas atau salam pembuka selamat datang kepada sekalian penonton. Adapun contoh lirik nyanyian  lagi Beremas itu kira-kira menggambarkan garis besar cerita yang akan dilakonkan pada malam itu. Salah satu bait lirik lagu Beremas itu berbunyi sebagai berikut:

Pimpinan (menyanyi solo):

Tabikencik, tabib man
Tabik kepada laki-laki perempuan
Kami bermain berkawan-kawan
Salah dan khilaf ampun dimaafkan

Anggota (koor):

Tabik encik, tabib man
Tabik kepada laki-laki perempuan
Kami bermain berkawan-kawan
Salah dan khilaf ampun dimaafkan

Setelah mereka selesai menyanyikan lagu Beremas itu maka para pemain kembali memasuki kebung. Selanjutnya adegan demi adegan sesuai dengan ini dan jalan cerita dilaksanakan. Seorang pemegang peranan suatu tokoh dalam cerita ‘Dul Muluk‘ memasuki gelanggang dan lebih dulu memperkenalkan dirinya. Misalnya pemegang peranan sultan Negeri Barbari keluar dari kebung memasuki gelanggang main dengan berkata Pada masa sekarang, sayalah yang bernama Sultan Abdul Hamid Syah yang duduk memerintah di Negeri Barbari, atau Pada masa sekarang. Sayalah yang bernama Sultan Syihabuddin yang duduk memerintah di Negeri Hindustan.

Seperti halnya kebanyakan seni penunjukan tradisional di Indonesia, seni penunjukan ‘Dul Muluk‘ pun mengalami rempuhan hasil-hasil kebudayaan mutakhir. Pada masanya dulu seni penujukan ini telah mendapat banyak tempat baik dihati masyarakat pendukungnya, bukan saja di daerah asalnya tapi juga di sekitarnya.

‘Dul Muluk‘ seperti juga macam-macam jenis seni pertunjukan tradisional perlu dipelajari dengan lebih menukik, semoga suatu bentuk seni pertunjukan dapat diberikan nafas dan ini baru yang sesuai dengan peredaran masa. Ada keterangan yang mengatakan meskipun seni penunjukan ‘Dul Muluk‘ dalam keadaan yang kurang menggembirakan sekarang ini, ada pihak-pihak yang berikhtiar dengan giat mengangkatnya ke permukaan untuk dikenalkan di kalang luas masyarakat kesenian, untuk dipelajari sebagai bahagian dari sejarah kesenian di Indonesia dan kegunaan lain yang mungkin belum diperhitungkan pada masa ini, banyak terjadi sesuatu yang telah dilupakan pada masanya kelak lalu dicari, dipelajari, dan diberi kehidupan baru, sebuah revitalisasi. Syukur-syukur kalau seni pertunjukan memang dapat hidup dengan sendirinya tanpa menunggu suatu dadakan revitalisasi atau revivalisasi.

Bagi daerah Riau sebagai terapat asal cerita yang mendasari seni penunjukan ‘Dul Muluk‘ perlu dicamkan dengan mendalam bahwa suatu hasil karya yang baik senantiasa membawa dan memberikan penganih yang positif.

Seorang sastrawan dan budayawan Perancis yang terkemuka pernah mengatakan bahwa suatu barang yang tersimpan diam dalam sebuah museum selalu menanti kedatangan seorang seniman untuk memberikan arti (yang baru) kepadanya.

Sumber:

Amanriza Pe Ediruslan dan Junus Hasan. 1993. “Seni Pertunjukan Tradisional Daerah Riau, Pekanbaru).
  1. Artikel-artikel tentang Teater Rakyat Dulmuluk. (2)
Dibaca : 16.722 kali.

Komentar untuk ''dul muluk''

Berikan komentar anda

Masukkan teks dan angka yang terdapat pada gambar di samping pada kotak di bawahnya. Bedakan penulisan huruf kecil dan huruf besar (kapital)

© 2010 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Desktop version