Kamis, 30 Oktober 2014   |   Jum'ah, 6 Muharam 1436 H
Pasang pelita di malam hari Apinya terang tampak bersinar Orang berguna tahukan diri Hatinya lapang lakunya kasar

Sastra Melayu

Ragam Jenis Ukiran Toraja, Sulawesi Selatan (Bagian Ke-1)



Ukiran Toraja adalah kesenian ukir Melayu khas suku bangsa Toraja di Sulawesi Selatan. Ukiran ini dicetak menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu. Motif ukiran Toraja bermacam-macam, antara lain cerita rakyat, benda di langit, binatang yang disakralkan, peralatan rumah tangga, atau tumbuh-tumbuhan.    


1. Asal-usul


Sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Sulawesi Selatan (Sulsel), suku Toraja memiliki kebudayaan berupa seni ukir yang indah dan penuh filosofi. Ukiran Toraja terinspirasi dari beragam hal, seperti cerita rakyat, benda di langit, kerbau yang disakralkan, babi, peralatan rumah tangga, tumbuhan, dan lain-lain. Hal-hal itu oleh orang Toraja memang disakralkan (Mohammad Natsir Sitonda, 2007; JS Sande, 1989).


Ukiran Toraja merupakan bentuk seni ukir yang dicetak menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu. Terdapat kurang lebih 67 ragam hias ukir Toraja yang hingga kini masih lestari dalam kehidupan orang Toraja. Di antaranya terdapat di dinding-dinding rumah adat Toraja atau peralatan rumah tangga (K. Kadang, 1960;.T. Tangdilintin, 1975).


2. Ragam Jenis Ukiran Toraja


Motif dan bentuk ukiran orang Toraja terdiri dari beragam jenis, antara lain:




  • Neq Limbongan. Orang Toraja meyakini bahwa nama ini diambil dari nama leluhur mereka yakni Limbongan yang diperkirakan hidup pada 3000 tahun yang lalu. Sedangkan neq berarti “danau”. Dalam pengertian orang Toraja, limbongan berarti sumber mata air yang tidak pernah kering sehingga menjadi sumber kehidupan. Oleh karena itu, motif ukiran ini berbentuk aliran air yang memutar dengan panah di keempat arah mata angin. Motif ini dimaknai bahwa rejeki akan datang dari 4 penjuru bagaikan mata air yang bersatu dalam danau dan memberi kebahagiaan.      








  • Paqbarre allo. Barre artinya “bulatan”, dan allo artinya “matahari”. Ukiran jenis ini menyerupai bulatan matahari dengan pancaran sinarnya dan biasanya ada di salah satu bagian belakang atau depan rumah di bawah ukiran paqmanuk londong yang berbentuk segitiga. Ukiran ini dimaknai sebagai ilmu pengetahuan dan kearifan yang menerangi layaknya matahari.







  • Paqkapuq baka. Kapuq artinya “ikatan” dan baka artinya “bakul” atau “keranjang”. Motif ukiran ini menyerupai ikatan pada penutup bakul (tempat menyimpan pakaian) yang bagi orang Toraja dianggap sakral. Jika ikatan bakul berubah, dipercaya bahwa ada yang mencuri pakaian di dalamnya. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar keturunan senantiasa bersatu dan senantiasa hidup damai dan sejahtera.







  • Paqkadang pao. Nama ini berarti “kait mangga”. Oleh Karena itu, ukiran ini berbentuk seperti kait penjolok yang digunakan untuk mengambil mangga. Ukiran ini dimaknai bahwa untuk mengaitkan harta benda ke rumah harus dengan cara yang jujur dan perlu kerjasama di lingkungan keluarga atau masyarakat.







  • Paqsulan sangbua. Sulan berarti “sulam” atau lipatan seperti tembakau sirih. Oleh karena itu, ukiran ini mirip sulaman tembakau sirih dan dimaknai sebagai lambang kebesaran bangsawan Toraja.







  • Paqbulu londong. Kata londong berarti “ayam jantan” sehingga ukiran ini menyerupai rumbai bulu ayam jantan. Ukiran ini dimaknai sebagai lambang keperkasaan dan kearifan laki-laki atau pemimpin.







  • Paqtedong. Tedong berarti “kerbau”. Ukiran ini menyerupai tanduk kerbau dan dimaknai sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat semua dan keluarga.







  • Paqtangko pattung. Istilah ini berarti menyerupai paku bambu yang biasa digunakan untuk mengaitkan tiang bangunan. Ukiran ini melambangkan kebesaran bangsawan Toraja dan lambang persatuan yang kokoh seperti paku bambu.







  • Paqtangkiq attung II. Ukiran jenis ini merupakan pengembangan dari Paqtangko pattung. Motif ini terdiri dari 4 bundaran benda seragam dan membentuk angka 8 sebangun, yang bila dijumlah menjadi 16, sama dengan 1+6=7. Angka 7 merupakan angka sakral bagi orang Toraja sesuai dengan falsafah aluk saqbu pitu ratuq pitung pulo pitu (7777). Ukiran ini merupakan lambang kebersamaan dan kekeluargaan Toraja.







  • Paqtanduk reqpe. Tanduk reqpe berarti “tanduk yang menggelayut ke bawah seperti ranting pohon yang keberatan buah”. Ukiran yang menyerupai tanduk kerbau ini melambangkan perjuangan hidup dan jerih payah.







  • Paqpolloq gayang. Polloq artinya “ekor”, sedangkan gayang artinya “keris emas”. Ukiran yang menyerupai rumbai ekor penghias keris emas bangsawan Toraja ini melambangkan kebesaran, kedamaian, dan kemudahan rejeki.







  • Paqulu gayang. Ulu artinya “bagian kepala” dan gayang artinya “keris emas”. Ukiran jenis ini menyerupai bagian kepala keris emas dan melambangkan perjuangan dalam mencari harta, terutama emas.







  • A. Paqbombo uai i. Dalam hal ini, bombo berarti “binatang air yang melayang di atas air bagaikan angin”. Ukiran ini merupakan gambaran manusia yang harus bekerja cepat, tepat waktu, displin, dan terampil.







  • B. Paqbombo uai i. Ukiran ini sama dengan sebelumnya namun lain bentuk. Garis-garisnya agak besar dan lengkungannya jelas.





Paqkollong buqkuq. Istilah ini berarti “leher burung tekukur”. Ukiran ini bentuknya menyerupai leher tekukur dan melambangkan kejujuran.





  • Paqulu karua. Ulu karua berarti “kepala delapan” yang mengacu pada mitos bahwa leluhur orang Toraja ada delapan 8 orang. Oleh Karena itu, ukiran ini menyerupai angka 8 dan melambangkan ilmu pengetahuan.







  • Paqmanik-manik. Ukiran ini berbentuk manik-manik, hiasan tradisional Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar anak cucu Toraja selalu hidup rukun.







  • Paqsekong kandaure. Ukiran ini berbentuk lengkung lingkar yang berlekuk-lekuk. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar seluruh keturunan Toraja hidup berbahagia.







  • A. Paqsekong anak. Istilah ini berarti lengkungan bayi ketika masih ada di rahim ibu. Ukiran ini berbentuk demikian juga dan dimaknai sebagai perlambang kejujuran dan keterbukaan.







  • B. Passekong dibungai. Ukiran jenis ini hampir sama dengan sebelumnya, hanya saja lingkarannya diberi hiasan bunga-bunga. Ukiran ini menyerupai segi empat sama sisi yang ujungnya tersembunyi di bagian tengah. Ukiran ini dimaknai sebagai perlambang bahwa seseorang harus bisa menjaga rahasia.







  • Paqsepuq torong kong. Ukiran ini menyerupai sulaman pundi tempat sirih. Torong kong digunakan untuk menyebut suku bangsa Rongkong yang masih serumpun dengan orang Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai semangat persatuan kedua suku.







  • A. Paqsalaqbiq biasa. Ukiran ini berbentuk pagar rumah yang terbuat dari bambu. Hal ini dimaknai sebagai perlambang sikap kehati-hatian dari segala kemungkinan ancaman.







  • B. Paqsalaqbiq ditoqmokki. Ukiran ini memiliki bentuk yang sama dengan sebelumnya, hanya saja pagar bambu dibuat lebih besar. Bentuk ini dimaknai sebagai harapan agar anak cucu terhindar dari segala wabah penyakit dan marabahaya lainnya.







  • Paqtalinga. Talinga artinya telinga. Ukiran ini dimaknai sebagai peringatan agar manusia menggunakan telinganya dengan benar.







  • Paqbokoq komba kaluaq. Ukiran ini menyerupai hiasan pada gelang emas dan manik-manik yang dipakai saat upacara adat. Ukiran ini dimaknai sebagai perlambang kewibawaan dan kebesaran kaum bangsawan Toraja.







  • Paqerong. Erong adalah peti untuk menyimpan tulang-belulang orang Toraja yang wafat. Erong ada yang berbentuk kepala kerbau atau babi. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar arwah leluhur menjaga dan memberkahi rejeki.







  • Paqsiborongan. Borongan berarti “bekerja secara berkelompok”. Tradisi ini diwujudkan menjadi ukiran di rumah-rumah orang Toraja yang berbentuk seperti bunga-bunga yang mekar. Ukiran ini sebagai lambang semangat persatuan dan kekerabatan.







  • Paqdoti siluang I. Ukiran ini merupakan repersentasi dari ilmu hitam dan kerbau. Ukiran ini biasanya terdapat pada pembungkus mayat perempuan dan dimaknai sebagai lambang keanggunan perempuan.







  • Paqdoti siluang II. Ukiran ini berupa segi empat kecil dan besar yang bertanda silang di tengahnya. Ukiran ini biasa terdapat di rumah adat Toraja atau pada pembungkus mayat perempuan. Makna ukiran ini sebagai lambang hati-hati jika mendengar kabar dari perempuan.







  • Paqreopo sangbua. Ukiran ini berbentuk garis siku-siku serong yang berlapis-lapis, sebagai representasi dari gerakan tari melipat lutut. Bentuk ukiran ini biasa ditemukan di dinding lumbung adat dan dimaknai sebagai semangat kebersamaan dan gotong-royong.







  • Paqpolloq songkang. Ukiran jenis ini berbentuk segi empat yang dibagi dalam segitiga kecil. Bentuk ini merupakan representasi dari bambu yang biasa digunakan untuk memerah susu. Oleh orang Toraja, ukiran ini dimaknai sebagai lambang kebesaran dan kemampuan bangsawan Toraja.







  • Paqpapan kandaure. Ukiran ini berbentuk segi empat besar dan bermakna harapan menjadi rumpun keluarga besar yang bersatu.







  • Paqsalaqbiq dibungai. Bentuk ukiran ini berupa sebilah bambu yang dibuat bersilang-silang dan ujungnya runcing. Ukiran jenis ini terdapat di rumah adat Toraja dan dimaknai untuk penangkal bahaya.     





3. Bahan, Peralatan, dan Cara Pembuatan


Bahan yang digunakan untuk membuat ukiran Toraja adalah kayu, baik itu berupa papan, tiang, jendela, atau pintu. Untuk membuatnya, dibutuhkan peralatan yang sederhana, yaitu palu dari kayu dan tatah dari besi dengan berbagai ukuran. Saat ini, pembuatan ukiran Toraja sudah ada yang menggunakan peralatan modern, seperti gergaji mesin dan penghalus kayu. Namun, ukiran Toraja masih dibuat dengan cara tradisional, yakni dengan ditatah secara manual.


4. Fungsi Ukiran Toraja


Ukiran Toraja memiliki beragam fungsi, antara lain :



  • Sebagai pelengkap dalam upacara adat.

  • Sebagai penghormatan terhadap leluhur.

  • Sebagai pendidikan untuk melaksanakan ajaran leluhur

  • Sebagai hiasan tradisional.


5. Nilai-nilai


Ukiran Toraja mengandung nilai-nilai bagi kehidupan masyarakat setempat, antara lain:



  • Ekonomi. Beberapa jenis ukiran Toraja juga ada yang dijadikan sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.  

  • Pelestarian tradisi. Ukiran Toraja merupakan peninggalan leluhur yang berharga dan hingga kini masih cukup terjaga. Keterjagaan ukiran Toraja ini juga didukung oleh pelaksanaan upacara adat.

  • Simbol. Nilai ini tercermin dari penggunaan ragam hias yang oleh masyarakat untuk perlambangan sesuatu.

  • Seni. Ragam ukiran Toraja merupakan benda seni. Tentunya, tanpa mempunyai jiwa seni, orang Toraja tidak mungkin dapat menciptakan ukiran yang indah dilihat dan memiliki nilai sakral.

  • Kelas sosial. Bagi masyarakat Toraja, memiliki ukiran dengan motif tertentu adalah sebuah kebanggaan dan menyatakan status sosial dalam kehidupan.


6. Penutup


Ukiran Toraja merupakan salah satu bukti kebesaran orang Toraja khususnya, dan bangsa Melayu serumpun secara umum. Realitas ini tentu saja membanggakan sekaligus tantangan bagi kita untuk selalu melestarikannya.


(Yusuf Efendi/Bdy/70/06-2011)


Referensi


JS Sande, 1989. Toraja in Carving. Ujungpandang.


Mohammad Natsir Sitonda, 2007. Toraja Warisan Dunia. Makassar: Pustaka Refleksi.


K. Kadang, 1960. Ukiran Rumah Toraja. Jakarta: Dinas Penerbitan Balai Pustaka.


LT Tangdilintin, 1975. Tongkonan dengan Seni dan Koleksinya. Tana Toraja.

Dibaca : 71.301 kali.

Komentar untuk ''ragam jenis ukiran toraja sulawesi selatan''

Berikan komentar anda

Masukkan teks dan angka yang terdapat pada gambar di samping pada kotak di bawahnya. Bedakan penulisan huruf kecil dan huruf besar (kapital)

© 2010 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Desktop version