Minggu, 23 November 2014   |   Isnain, 30 Muharam 1436 H
Orang bintang memetik nangka Rasanya manis sedap dimakan Orang beriman berbaik sangka Mukanya manis lakunya sopan

Resensi Buku



19 februari 2010 07:07

Keunikan Musik Melayu Ghazal


Judul Buku
:
Selayang Pandang Musik Melayu Ghazal
Penulis
:
Asri
Penyunting
:
Mahyudin Al Mudra
Penerbit
:
BKPBM bekerjasama dengan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Agustus 2008
Tebal:xiii + 67 halaman

Musik adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebudayaan. Sebagai bahasa hati dan ekspresi perasaan, musik merupakan cerminan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasari dan menghidupkan kebudayaan secara menyeluruh. Boleh dikata musik merupakan salah satu elemen kesenian yang dipengaruhi tradisi budaya tertentu untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui oleh masyarakat di mana musik tersebut hidup.

Demikian pula dengan musik Melayu ghazal yang diurai dalam buku karya Asri, alumnus Magister Seni Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta ini. Musik yang awalnya berasal dari semenanjung Arab dan dipengaruhi oleh budaya India ini, mencerminkan pula kepribadian masyarakat di mana musik ini berasal. Irama padang pasir yang mendayu-dayu, diramu dengan tepukan tabla, alunan harmonium, gesekan biola, dan petikan gitar, menghadirkan suasana melankolis yang membuai. Masyarakat Melayu yang pada dasarnya memiliki karakter melankolis, menurut Mahyudin Al Mudra dalam pengantar buku ini, sangat sesuai dengan jenis musik ghazal ini. Ditambah dengan kekayaan pantun mereka, yang juga diadaptasi menjadi lirik lagu, membuat musik ghazal menjadi musik yang mewakili sepenuhnya jiwa dan sikap hidup masyarakat Melayu (hlm. vi).

Hingga kini, musik Melayu ghazal masih hidup di masyarakat Desa Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, dan merupakan salah satu musik tradisional yang telah lama berkembang dan menjadi ungkapan bentuk kesenian tradisional yang dapat dinikmati oleh masyarakat setempat. Sejarah dan perkembangan musik Melayu ghazal di Desa Pulau Penyengat, menurut buku ini, terbilang berhasil di saat musik kesenian daerah lain mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat.

Dalam uraiannya, Asri menjelaskan bahwa adalah seorang tokoh bernama Pak Lomak yang telah berhasil meneruskan perjuangan leluhur untuk mengenalkan musik ghazal dari Arab ke Johor Malaysia hingga ke Desa Pulau Penyengat di Kepulauan Riau. Perjuangan Pak Lomak yang gigih dan penuh tanggung jawab merupakan modal dasar yang digunakannya untuk menyebarkan musik Melayu ghazal. Selain itu, Pak Lomak juga berupaya untuk menggabungkan alat musik dari negara lain dengan musik Melayu ghazal, sehingga menjadikan musik ghazal dapat mengikuti perkembangan zaman dan mendapatkan respon positif dari masyarakat Desa Pulau Penyengat.

Lebih lanjut, pertumbuhan dan perkembangan musik Melayu ghazal, menurut buku ini, berkenaan dengan tiga unsur yang dimiliki oleh masyarakat di Desa Pulau Penyengat. Pertama, masyarakat merespon dengan baik adanya musik Melayu ghazal. Kedua, lintas generasi yang satu dengan generasi berikutnya tertata dengan baik, sehingga musik Melayu ghazal tetap dikenal oleh generasi selanjutnya. Ketiga, musik Melayu ghazal selalu dipublikasikan agar dapat didengarkan oleh orang banyak (hlm. 5).

Dari sini, dapat dikatakan bahwa musik Melayu ghazal tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Melayu. Makna dan fungsi musik ghazal terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, dan sebagai sarana komunikasi. Di samping itu, musik ghazal bagi masyarakat Melayu juga merupakan representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosio-kultural, dan juga merupakan peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

Oleh sebab itu, tampak jelas bahwa musik Melayu ghazal mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang dan masyarakat Melayu di Desa Pulau Penyengat. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa sosial maupun lagu-lagu percintaan yang mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam pementasan musik Melayu ghazal, akan menggugah reaksi dari para pendengar atau penontonnya. Maksudnya, nuansa lagu yang dibawakan dalam musik ghazal disesuaikan dengan suasananya. Sebagai contoh, untuk suasana pesta pernikahan dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik ghazal di kalangan masyarakat Melayu adalah tempo yang dibawakan dengan alat musik seperti syarenggi, sitar, harmonium, dan tabla. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang dan tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan suasana kesedihan dan kerinduan. Syair-syair lagu yang dibawakan kadang diadaptasi dari puisi-puisi dan pantun-pantun Melayu, sehingga peran dan jasa musik ghazal dalam perkembangan dan pelestarian puisi dan pantun Melayu tidaklah kecil. Banyaknya lagu-lagu yang diadaptasi dari puisi dan pantun tersebut menggambarkan persepsi masyarakat Melayu terhadap kebudayaannya.

Lagu-lagu dalam musik ghazal yang sering dibawakan antara lain, Soleram, Sri Mersing, Gunung Banang, Sri Tamiang, Sri Kedah, Sri Taman, Pak Ngah Balik, dan lain-lain. Lagu-lagu tersebut adalah hasil ciptaan ahli-ahli musik Melayu ghazal. Sehubungan dengan itu, dinyanyikan pula lagu-lagu yang diadaptasi dari pantun-pantun Melayu seperti pantun Embun Berderai dan Patah Hati. Kedua pantun tersebut mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Melayu di Kepulauan Riau karena menggambarkan orang yang sedang sedih.

Di samping itu, sembari mengutip para ahli musik tradisional, Asri dalam buku yang diangkat dari tesis masternya ini, mengakui bahwa selain berfungsi sebagai hiburan, kesenian musik juga berfungsi sebagai sarana komunikasi. Lewat pelbagai nuansa musik ghazal yang dibawakan, masyarakat Melayu hendak mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang riang maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan, dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Selain itu, musik ghazal juga hendak mengkomunikasikan identitas Melayu sebagai etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Melayu yang terkenal dengan tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik musik ghazal maupun musik lainnya.

Dari seluruh uraian buku yang terbagi dalam enam bab ini, dapat disimpulkan bahwa musik ghazal mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat Melayu. Musik ghazal merupakan titik pangkal pengembangan budaya sekaligus merupakan simbol identitas yang unik dari masyarakat Melayu. Musik ghazal merupakan kebanggaan masyarakat Melayu di Desa Pulau Penyengat dan bahkan di kalangan masyarakat Melayu di daerah lainnya. Ia merupakan sarana yang sangat vital dalam pengungkapan tradisi masyarakat Melayu.

Keberadaan musik ghazal juga merupakan bentuk pernyataan ikatan kekeluargaan, kekerabatan, keturunan sedarah dan keturunan sesuku Melayu umumnya. Di samping itu, musik Melayu ghazal, secara tidak langsung, mengajarkan kearifan hidup manusia yang tercermin dalam sikap dan pergaulan dengan sesama (nilai sosial), maupun untuk mencapai nilai-nilai tertinggi, yakni nilai spiritual. Proses pencapaian nilai tersebut tentu saja didasari oleh sikap mendengarkan dengan penuh penghayatan, sehingga apa yang dihadirkan dari musik tradisional Melayu ini dapat menyentuh perasaan hati yang paling dalam.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disadari atau tidak, sangat mempengaruhi musik tradisional Melayu ghazal, bahkan juga mempengaruhi hampir semua aspek kebudayaan. Sebagai contoh, hadirnya alat musik keyboard serta alat musik elektronik lainnya sangat berpengaruh besar bagi harmonium yang digunakan dalam musik ghazal. Posisi harmonium tak jarang “digeser” oleh keyboard. Selain itu, pemain musik ghazal sudah semakin langka ditemukan, karena kaum muda sudah kurang tertarik dengan alunan musik ghazal, apalagi untuk mempelajari cara memainkannya.

Melihat daya tahan musik Melayu ghazal sampai saat ini di Desa Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, kita patut berbangga memiliki musik tradisional tersebut sebagai suatu khazanah kesenian Melayu di Nusantara. Sudah tidak penting lagi dari mana asal musik Melayu ghazal, yang terpenting adalah bahwa keberadaannya di Nusantara sangat lekat dengan nama kesenian Melayu. Ya, meski musik Melayu ghazal jauh dari kata populer ternyata masih mampu bertahan, setidaknya di Desa Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Namun sampai kapan? Mengingat pelestarian dan penghargaan terhadap musik Melayu ghazal teramat minim, sepertinya puak Melayu harus membuka hati untuk segera turun tangan menyelamatkan musik Melayu ghazal dari kepunahan.

Nah, kehadiran buku karya Asri yang diterbitkan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bekerjasama dengan Penerbit Adicita ini, merupakan salah satu upaya untuk menghayati, menggali, dan mendokumentasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam musik Melayu ghazal dan kemudian coba mewariskannya kepada generasi mendatang, agar tidak hilang ditelan zaman. Dengan demikian, musik Melayu ghazal tidak hanya dikenal di kalangan Melayu saja, tapi juga di masyarakat pendukung budaya lainnya.

(Tasyriq Hifzhillah/res/03/10-08)


Dibaca : 19.734 kali.
© 2010 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Desktop version